Surga Kecil Di Ujung Pulau Jakarta
Jakarta
(UBM News), Indonesia merupakan negara yang kaya akan pesona alam. Sebagai
salah satu Negara yang memiliki berjuta keindahan di dalamnya, Indonesia
seringkali dijadikan sebagai tujuan wisata bagi turis-turis lokal maupun
mancanegara.
Kekayaan
alamnya di satu sisi telah menarik beberapa bangsa Eropa hingga Asia untuk
menguasai ribuan kepulauan di negeri ini. Keindahan alam Indonesia
menawarkan panorama yang indah dari Sabang sampai Merauke.
Salah
satu keindahan di Indonesia dapat terlihat dari salah satu pulau yang ada di
bagian utara pulau jawa ini. Pulau yang menjadi bagian dari kepulauan seribu di
Indonesia ini selalu menyajikan panorama keindahan yang tidak ada hentinya.
Dengan luas 40,32 hektare merupakan salah satu
kabupaten di wilayah Kepulauan Seribu Selatan yang menawarkan pesona keindahan
yang menawan.
Pulau
tersebut bernama Pulau Pari. Konon katanya nama pari berasal dari cerita para
tetuah di daerah tersebut, bahwa terdapat banyak jumlah ikan pari di pinggir
pantai tersebut, namun seiring waktu dan banyaknya manusia yang mulai menempati
daerah tersebut jumlah ikan pari pun semakin berkurang dan bahkan sudah tidak
ada lagi.
Untuk
mencapai pulau yang menyajikan panorama pantai berpasir putih ini diperlukan
perjalanan laut selama 1-1,5 jam dari Jakarta dari Dermaga Kaliadem, Muara
Angke, Jakarta Utara. Pulau ini relatif dekat dengan Pulau Rambut, Lancang,
Tidung, dan Pulau Pramuka yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan
Seribu.
Di
pulau ini terdapat tiga buah pantai berpasir putih, yaitu Pantai Pasir Perawan,
Pantai Pasir Bintang dan Pantai Kresek. Pantai-pantai tersebut sangat cocok
dijadikan sebagai tempat berlibur bagi keluarga atau sekedar untuk melepas
penat dalam pikiran.
Pulau
yang satu ini juga menjadi tujuan wisatawan-wisatawan lokal maupun mancanegara
untuk berlibur bersama keluarga. Pulau Pari sendiri baru dikembangkan menjadi
tempat wisata sejak 5 tahun belakangan, tepatnya pada tahun 2010.
Pada awalnya para penduduk bermata pencaharian
sebagai nelayan dan pembudidaya ikan atau rumput laut. Namun kini banyak
penduduk yang beralih profesi menjadi tour guide maupun menyewakan rumah mereka
sebagai home stay bagi wisatawan
karena tingginya peluang keuntungan dari mengelola bisnis pariwisata di pulau
pari ini.
Selain
pemandangan pantai berpasir putih dan air bening, pengunjung Pulau Pari
ditawari paket keliling perkampungan dengan sepeda, menyelam di perairan
dangkal atau yang biasa disebut dengan snorkling,
serta menjelajah perairan tepi dengan sampan atau speed boat.
Selain
itu juga di Pantai Kresek terdapat penangkaran biota laut seperti bintang laut
dan ubur-ubur yang bisa menjadi obyek wisata bagi anak-anak. Seluruh paket
wisata diselenggarakan oleh masyarakat sebagai penyedia jasa, mulai dari jasa
penyewaan alat, pemandu, dan penginapan.
Untuk
biayanya sendiri, obyek wisata di pulau pari tergolong murah Pengelola mematok
tarif masuk ke pantai Rp 3.500 per orang. Peralatan menyelam Rp 40.000 per
orang, banana boat Rp 40.000 per orang, dan sewa perahu Rp 400.000 untuk 10
orang. Angka ini tak jauh berbeda dengan tarif beberapa penyedia jasa di Pulau
Pramuka.
Ketua
RW setempat, Nurhayat (45) mengatakan bahwa jumlah wisatawan di pulau pari ini
selalu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Sejak diresmikan tahun 2012
pulau ini seakan-akan tidak pernah sepi pengunjung.
“Mayoritas
wisatawan di pulau ini adalah wisatawan lokal dan puncaknya (pengunjung)
terjadi pada hari Sabtu dan Minggu, hingga mencapai 2000-3000 wisatawan.” Ujar
Nurhayat.
Namun dibalik kemajuan yang terjadi
di pulau pari ternyata masih terdapat banyak kekurangannya. Salah satunya
adalah kurangnya dukungan pemerintah dalam meningkatkan sektor wisata di Pulau
Pari ini. Sehingga menyebabkan banyaknya pembangunan yang harus dihentikan
akibat kekurangan dana.
Menurut Bonte selaku tour guide
setempat. Minimnya dukungan pemerintah membuat masyarakat berupaya keras
mencari cara untuk meningkatkan fasilitas serta pemasaran agar dapat lebih
berkembang dan dikenali oleh wisatawan lokal maupun non lokal.
Salah satunya dengan menerima
tawaran dari salah satu perusahaan asing yang akan membangun sebuah resort bagi
pengunjung kelas atas.
Hal ini tentu sangat disayangkan
karena keuntungan pasti akan jatuh ke tangan perusahaan asing. Padahal penduduk
setempat menggantungkan hidupnya terhadap pendapatan dari wisatawan yang datang
berkunjung.
Sedangkan menurut Tazbir selaku
bagian dari Kementerian Pariwisata Indonesia yang menjadi pembicara dalam seminar
yang diselenggarakan oleh Universitas Bunda Mulia pada hari Rabu 9 Desember
2015 terkait pembahasannya mengenai dorongan pemerintah terhadap tempat wisata,
“Pemerintah pusat tidak memegang
kendali atas segala dorongan dana maupun tinjauan akan tetapi pemerintah pus at memberikan dorongan melalui pemasaran
ke seluruh dunia”,ujar Tazbih.
Namun jika di tinjau kembali
menurut UUD No.10.pasal.10 tahun 2009 dimana dapat di simpulkan bahwa
pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan dorongan maupun bantuan
terhadap pembangunanan tempat wisata.
Hal ini menjadi sebuah masalah
karena jelas terlihat bahwa pemerintah daerah dan pemerintah pusat tidak
menjalankan fungsi Undang-Undang seperti bagaimana seharusnya. Sebagai salah satu
daerah yang berpotensi untuk tempat wisata, pemerintah sebaiknya memberikan
perhatian ekstra untuk daerah tersebut agar dapat menambah devisa negara dan
daerah.
Menurut salah satu dosen manajemen
di Universitas Bunda Mulia, Ashwita Chairany SE,ME obyek pariwisata di
Indonesia dapat meningkatkan perekonomian negara, melalui peningkatan
pajak/devisa negara. Potensi wisata di Pulau Pari juga sangat besar potensinya,
apabila pemerintah mau turun tangan di dalam perkembangan Pulau Pari, karena selama
ini obyek wisata di pulau pari masih dikelola oleh penduduk setempat atau
secara swadaya.
Harapan
kedepannya bagi para penduduk adalah dengan selalu menjaga kebersihan pulau dan
menambah fasilitas di Pulau Pari untuk meningkatkan jumlah wisatawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar