Profesi
sebagai jurnalis memang merupakan sebuah pekerjaan yang menarik bagi sebagian
orang, tidak sedikit juga yang mendambakan profesi itu sebagai cita-cita
impian. Bagi kalian yang juga ingin menjadi jurnalis, berat rasanya bila kalian
tidak mengenal sosok yang satu ini.
Adalah Silvanus Alvin, sosok
pemuda berusia 28 tahun yang sudah cukup lama melenggong di dunia jurnalistik. Pria kelahiran Jakarta 1990 yang
mengambil gelar S-1 di Universitas Multimedia Nusantara sudah merasakan berbagai manis
dan pahitnya kehidupan sebagai jurnalis juga sudah sering ia rasakan. Mulai
dari tidur di jalan dengan hanya beralaskan kertas, hingga memiliki kesempatan
bertemu dengan Presiden Jokowi, hanyalah sebagian pengalaman yang ia bagikan
pada konferensi pers di Universitas Bunda Mulia.
Sosok pemuda penerima beasiswa S-2
LPDP di University of Leicester dari Wapres Jusuf Kalla ini sangatlah hangat, dan
jenaka. Tak jarang ia juga memberi bumbu komedi pada konferensi pers yang
berlangsung pada pukul 8 pagi di kelas 704 Universitas Bunda Mulia.
Pria kelahiran Jakarta tahun 1990
ini sudah pernah bekerja di 3 kantor media online Indonesia. Beliau memulai
perjalanan karir jurnalistik nya di Kompas.com sebagai anak magang. Beliau
bekerja disana selama 3 bulan lamanya, hingga dirinya pun mendapat tawaran bekerja
di Detik.com. Pengalaman - pengalaman bekerja di sana juga sempat ia bagikan di
Konferensi Pers tadi pagi. Barulah pada akhirnya ia pun bekerja di Liputa6.com
selama 4 tahun dan disini juga ia mendapat paling banyak pengalaman berharga.
Beliau pun menuturkan
perbedaan-perbedaan dari media online tersebut. "Detik.com lebih
mengutamakan kecepatan dan berita yang panjang, sedangkan Liputan6.com tidak
terlalu mengutamakan kecepatan namun lebih memilih untuk memposting berita di
waktu yang tepat sehingga akan lebih banyak pembacanya". Tutur Alvin pagi
tadi. Ia pun juga menjelaskan bahwa media online sekarang sudah lebih canggih
dalam memanfaatkan teknologi-teknologi. Seperti penggunaan SEO (Search Engine
Optimization) untuk membantu pencarian kata kunci tertentu sehingga berita
lebih mudah ditemukan pembaca dan juga melakukan kerjasama dengan
aplikasi-aplikasi mobile untuk meningkatkan jumlah pembaca, seperti kerjasama
dengan LINE dalam fitur LINE Today nya.
Perbedaan cara kerja jurnalis
juga banyak terjadi, salah satunya adalah penggunaan catatan yang tidak
dibutuhkan lagi dalam media online. "Jurnalis online sekarang sudah tidak
pakai notes, tapi justru harus punya
kemampuan tikpet atau ngetik cepet untuk mencatat berita
narasumber". Tutur dirinya. Memang benar adanya dalam media online berita harus dapat
disebarkan dengan cepat dan akurat oleh karena itulah penulisan berita langsung
dilakukan di tempat dengan menggunakan perangkat mobile sebagai sarana nya
untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas.
Alvin
juga menuturkan salah satu alasan mengapa ia memilih profesi sebagai jurnalis
adalah karena kecintaannya dengan dunia olahraga. "Kalau jadi jurnalis kan
bisa meliput tayangan olahraga, jadi bisa nonton langsung setiap tayangan
olahraga". Aku Alvin. Sesederhana itu lah ia memilih profesi sebagai
seorang jurnalis, namun hal itu yang justru membantu Alvin untuk mendapat
banyak pengalaman, bertemu orang-orang besar negara, dan juga bepergian keluar
negeri.
Tak
luput juga dengan pengalaman menarik yang
sering ia alami, salah satunya adalah ketika pertama kali ia menjadi jurnalis
di kampus dan membentuk sebuah media kampus bernama 9, yang berasal dari
sembilan unsur dari jurnalistik. Ia membentuk media ini sebagai media
underground kampus yang mengkritik kebijakan universitas yang dirasa tidak
benar bagi kebanyakan orang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar