Senin, 05 Februari 2018

Mengenal sosok Silvanus Alvin, Jurnalis Muda Dengan Sejuta Pengalaman





Profesi sebagai jurnalis memang merupakan sebuah pekerjaan yang menarik bagi sebagian orang, tidak sedikit juga yang mendambakan profesi itu sebagai cita-cita impian. Bagi kalian yang juga ingin menjadi jurnalis, berat rasanya bila kalian tidak mengenal sosok yang satu ini. 

                Adalah Silvanus Alvin, sosok pemuda berusia 28 tahun yang sudah cukup lama melenggong di dunia jurnalistik. Pria kelahiran Jakarta 1990 yang mengambil gelar S-1 di Universitas Multimedia Nusantara sudah merasakan berbagai manis dan pahitnya kehidupan sebagai jurnalis juga sudah sering ia rasakan. Mulai dari tidur di jalan dengan hanya beralaskan kertas, hingga memiliki kesempatan bertemu dengan Presiden Jokowi, hanyalah sebagian pengalaman yang ia bagikan pada konferensi pers di Universitas Bunda Mulia. 

                Sosok pemuda penerima beasiswa S-2 LPDP di University of Leicester dari Wapres Jusuf Kalla ini sangatlah hangat, dan jenaka. Tak jarang ia juga memberi bumbu komedi pada konferensi pers yang berlangsung pada pukul 8 pagi di kelas 704 Universitas Bunda Mulia. 

                Pria kelahiran Jakarta tahun 1990 ini sudah pernah bekerja di 3 kantor media online Indonesia. Beliau memulai perjalanan karir jurnalistik nya di Kompas.com sebagai anak magang. Beliau bekerja disana selama 3 bulan lamanya, hingga dirinya pun mendapat tawaran bekerja di Detik.com. Pengalaman - pengalaman bekerja di sana juga sempat ia bagikan di Konferensi Pers tadi pagi. Barulah pada akhirnya ia pun bekerja di Liputa6.com selama 4 tahun dan disini juga ia mendapat paling banyak pengalaman berharga.

                Beliau pun menuturkan perbedaan-perbedaan dari media online tersebut. "Detik.com lebih mengutamakan kecepatan dan berita yang panjang, sedangkan Liputan6.com tidak terlalu mengutamakan kecepatan namun lebih memilih untuk memposting berita di waktu yang tepat sehingga akan lebih banyak pembacanya". Tutur Alvin pagi tadi. Ia pun juga menjelaskan bahwa media online sekarang sudah lebih canggih dalam memanfaatkan teknologi-teknologi. Seperti penggunaan SEO (Search Engine Optimization) untuk membantu pencarian kata kunci tertentu sehingga berita lebih mudah ditemukan pembaca dan juga melakukan kerjasama dengan aplikasi-aplikasi mobile untuk meningkatkan jumlah pembaca, seperti kerjasama dengan LINE dalam fitur LINE Today nya.

                Perbedaan cara kerja jurnalis juga banyak terjadi, salah satunya adalah penggunaan catatan yang tidak dibutuhkan lagi dalam media online. "Jurnalis online sekarang sudah tidak pakai notes, tapi justru harus punya kemampuan tikpet atau ngetik cepet untuk mencatat berita narasumber". Tutur dirinya. Memang benar adanya dalam media online berita harus dapat disebarkan dengan cepat dan akurat oleh karena itulah penulisan berita langsung dilakukan di tempat dengan menggunakan perangkat mobile sebagai sarana nya untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas.

                Alvin juga menuturkan salah satu alasan mengapa ia memilih profesi sebagai jurnalis adalah karena kecintaannya dengan dunia olahraga. "Kalau jadi jurnalis kan bisa meliput tayangan olahraga, jadi bisa nonton langsung setiap tayangan olahraga". Aku Alvin. Sesederhana itu lah ia memilih profesi sebagai seorang jurnalis, namun hal itu yang justru membantu Alvin untuk mendapat banyak pengalaman, bertemu orang-orang besar negara, dan juga bepergian keluar negeri. 

                Tak luput juga dengan  pengalaman menarik yang sering ia alami, salah satunya adalah ketika pertama kali ia menjadi jurnalis di kampus dan membentuk sebuah media kampus bernama 9, yang berasal dari sembilan unsur dari jurnalistik. Ia membentuk media ini sebagai media underground kampus yang mengkritik kebijakan universitas yang dirasa tidak benar bagi kebanyakan orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar